Senin, 17 Maret 2008

PERKEMBANGAN REMAJA

Masa remaja adalah usia bermasalah. Masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi oleh para remaja.hal ini disebabkan karena para remaja merasa dirinya mandiri, sehingga apabila terjadi suatu permasalahan, para remaja selalu ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru. Padahal remaja kurang memiliki kemampuan untuk mengatasi masalahnya menurut apa yang mereka yakini.

Setiap remaja pasti mengalami berbagai masalah, diantaranya yang berhubungan dengan orang tua bahkan dengan dirinya sendiri. Ketegangan-ketegangan yang terjadi dengan orang tua menjadi suatu permasalahan yang sering terjadi, karena perbadaan persepsi antara orang tua dan anak.

Layaknya sebagai seorang remaja dalam berbagai hal seorang remaja yang emosi dan keegoisannya tinggi, aku sering menghadapi ketegangan dengan orang tuaku dalam berbagai hal yang lebih menonjol adalah masalah dalam mencari teman untuk bergaul. Pacaran adalah permasalahan yang sering dibahas oleh kedua orang tuaku. mereka berdua selalu menaruh rasa curiga kepadaku, karena mereka tidak menginginkan pelajaranku terbengkalai hanya karena mempunyai hubungan spesial dengan lawan jenis.

Tidak hanya dalam masalah bergaul, aku merasa jauh dari orang tua. Ketika aku duduk di bangku Mts (Madrasah Tsanawiyah) aku lebih dekat dengan ayah daripada ibu, namun keadaan berubah total ketika aku menginjak bangku MA (Madrasah Aliyah) aku lebih dekat dengan ibuku tercinta.

Sebagai seorang bendahara di rumah tangga, ibuku selalu mengatur keuangan keluarga. Ibuku juga selalu mengingatkan diriku agar hidup hemat dan meninggalkan sifat boros. Namun, sebagai seorang remaja putri pasti ingin selalu mengikuti trend masa kini. Mulai dari model pakaian, rambut, tas, aksesoris dan lain-lain. Untuk mendapatkan tsemua itu membutuhkan biaya yang cukup banyak. Aku selalu meminta uang kepada ibuku untuk membeli apa yang aku inginkan.lagi-lagi karena masalah uang, sering terjadi pertentangan.

Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya berakhlak mulia dan berbakti kepada orang tua. Salah satu cara yang ditmpuh oleh kedua orang tuaku yaitu dengan menyekolahkan aku di pondok pesantren. Kehidupan di pindok pesantren mamang lebih menjamin dari pada kehidupan di luar. Segala perilaku, pergaulan sangat terkontrol. Pondok pesantren sangat menjaga pergaulan dengan lawan jenis. Seluruh murid di sekolahku hanya khusus untuk perempuan, begitu juga dengan tenaga pengajarnya mayoritas perempuan, kalaupun ada guru laki-laki hanya beberapa orng saja, itupun telah berkeluarga dan rata-rata telah menginjak usia 35 tahun.

Masa pubertas adalah dimana seorang anak mengalami perubahan-perubahan dalam diri para remaja. Mulai dari perubahan tubuh, hormon, serta keinginan bersama dengan lawan jenis. Banyak dari para remaja yang tidak dapat mengontrol diri terhadap kecintaan dengan lawan jenis. Sehingga banyak di antara teman-temanku yang mendapat hukuman karena berhubungan dengan lawan jenis apalagi dengan anak pesantren putra. Untungnya aku dapat menjga diriku dari hal demikian karena aku takut dapat hukuman. Apabila seorang santri mendapatkan hukuman maka di mata para guru santri tersebut dipandang tidak memiliki akhlak yang baik karena telah melanggar peraturan yang berlaku. Para guru pasti akan mengetahui kalau ada yang mendapatkan hukuman karena ketika sekolah, santri yang mendapatkan hukuman mengenakan seragam sekolah yang berbeda dengan santrin yang lainnya yaitu dengan mengenakan jilbab berwarna merah.

Aku jadi teringat ketika semasa Mts, ketika itu aku di interogasi oleh ayahku karena ayahku mendengar kabar bahwa ada salah satu murid ayahku yang suka dengan diriku. Aku hanya terdiam tidak berani membantah perkataaan ayahku untuk membela diri. Sejak saat itu aku tidak berani untuk mempunyai teman spesial karena takut dimarahi lagi oleh ayahku. Akan tetapi sekarang ayahku mulai mengerti diriku sebagai seorang remaja.

Selain permasalahan dengan orang tua, para remaja juga mengalami krisis percaya diri. Banyak para remaja sekarang mengalami demam idola terutama mengidolakan para selebritis yang perilakunya sebenarnya tidak patut ditiru. Segala sesuatu yang berhubungan dengan sang idola pasti selalu dicontoh, mulai dari cara berpakaian, gaya rambut bahkan rela mengorbankan nyawanya hanya untuk melihat sang idola yang sedang mengadakan jumpa fans.

Perilaku di atas hanya beberapa contoh dari ketidak percayaan diri seorang remaja. Aku sendiri juga sering mengalami krisis kepercayaan diri. Sering mengidolakan seseorang dan sering memberikan sanjungan kepada orang yang aku anggap THE BEST. Kadang kala aku sering kali ingin bersikap seperti orang yang aku idolakan hingga harus membunuh karakter diriku sendiri.

Ketika kelas VII aku belum begitu mengalami krisis kepercayaan diri. Aku merasa enjoy dengan segala perbutan dan penampilanku tanpa menghiraukan orang lain suka atau tidak melihat dengan perbuatan dan penampilanku.namun ketika menginjak kelas VIII aku mulai mengidolakan seseorang dan itu memang membuat perubahan dalam segala hal hingga prestasiku di sekolah meningkat.

Dampak positif yang dapat aku ambil dari mengidolakan seseorang juga dibarengi dengan dampak negataif yang membuat aku tidak percaya dengan kemampuan yang aku miliki karena aku menjadikan dia sebagai kiblat. Segala apa yang dia perbuat selalu aku tiru.

Setelah mempelajari perkembangan remaja, sekarang aku baru mengetahui kenapa ketika di pondok pesantren banyak dari temanku yang tidak merasa percaya diri saat berjalan sendiri tanpa didampingi dengan yang lain. Memang begitu kiranya permasalahan yang dihadapi oleh seseorang pada saat fase perkembangan remaja.

Tidak ada komentar: